BANTUL BASIS GERILYA

Rabu Pahing, 13 Oktober 2021 13:24 WIB ∼ 9

BANTUL BASIS  GERILYA

Nama Bantul menunjuk pada nama wilayah administratif yaitu Kabupaten, Kapanewon, Kalurahan dan juga Pedukuhan dengan nama tambahan, yaitu
1.    Pedukuhan Bantul Karang   termasuk di Kalurahan Ringinharjo
2.    Pedukuhan Bantul Timur  termasuk di Kalurahan Trirenggo
3.    Pedukuhan Bantul Warung  termasuk di Kalurahan Bantul.
Menurut catatan sejarah, Bantul dibangun pada tahun 1831 saat era pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V. Nama kabupaten ini sempat mengalami perubahan hingga akhirnya resmi disebut Bantul., kabupaten paling selatan di Yogyakarta.  
Sejarah kabupaten ini tidak bisa dipisahkan dari histori Daerah Istimewa Yogyakarta. Terbentuknya daerah ini bermula ketika Pangeran Diponegoro bersama pasukannya yang bersembunyi di Gua Selarong melakukan perlawanan terhadap Belanda pada tahun 1825 hingga 1830
Medan gerilya P Diponegoro yang berpusat di Goa Selarong juga melebar ke wilayah di Kapanewon Bantul. Dari sumber lisan yang ada terdapat fakta bahwa P Diponegoro dalam perjalanannya hilir mudik dari Goa Selarong ke Imogiri, sering singgah di dusun Pepe Trirenggo, tepatnya di tempat yang sekarang sebagai lokasi  masjid Ad Dakwah di Dusun Pepe Trirenggo Bantul. Bahkan HB IX sewaktu muda dulu juga pernah berkunjung ke tempat tersebut. 
Perlawanan tersebut berhasil diredam oleh pemerintah kolonial Belanda. Agar situasi terkendali, Belanda lantas mengadakan kontrak dengan Kasultanan Yogyakarta. Salah satu kesepakatan yang tertulis dalam perjanjian itu adalah Sultan Hamengku Buwono V mesti membagi wilayahnya menjadi tiga daerah administratif, yakni Bantulkarang (selatan), Denggung (utara), dan Kalasan (timur).
Pada tanggal 20 Juli 1831, wilayah bagian selatan yang semula disebut Bantulkarang berubah nama menjadi Bantul dan ditetapkan sebagai salah satu dari tiga daerah Kasultanan Yogyakarta. Tanggal 20 Juli pun diperingati sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Bantul. Saat itu, Bantul dipimpin oleh seorang bupati bernama Raden Tumenggung Mangun Negoro yang merupakan abdi dalem Kraton berpangkat Bupati Nayaka.
Di dalam buku “KETIKA RAKYAT BANTUL MEMBELA REPUBLIK”, yang disusun oleh Yayasan Projotamansari, banyak terungkap cerita perjuangan pelaku sejarah perjuangan di Kabupaten Bantul, termasuk di dalamnya yang terjadi di wilayah Kapanewon Bantul. Saat itu Bantul termasuk dalam Sub Wehrkreise 102 (SWK 102) di bawah pimpinan Mayor FX Sardjono.  Dibawah Wehrkreise III (WK III) yang di pimpin oleh  Letkol Soeharto.
Untuk lebih  memudahkan koordinasi pasukan, WK III terbagi menjadi 7 Sub Werkreise (SWK) yaitu :
1.    SWK 101 Daerah  Kota  Yogyakarta dengan komandan Lettu  Marsudi
2.    SWK  102 Daerah Bantul dengan komandan Mayor Sardjono bermarkas di Pandak
3.    SWK 103 Daerah Gamping dengan komandan Letkol Soehoed
4.    SWK 103A Daerah  Godean dengan komandan Mayor Soemoel
5.    SWK 104 Daerah Sleman dengan komandan Mayor Sukasno
6.    SWK 105  Daerah Gunungkidul  dengan komandan Mayor Soedjono
7.    SWK 106 Daerah Kulonprogo dengan komandan Letkol Sudarto

Wehrkreise (dari bahasa Jerman: "lingkaran/daerah pertahanan") adalah bentuk strategi yang digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia ketika Belanda melancarkan agresi militer yang kedua pada bulan Desember 1948.
Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I pada bulan Juli 1947 dengan menyerbu wilayah Republik Indonesia, TNI menggelar pertahanan linier yang konvensional. Pertahanan TNI di beberapa daerah berhasil diterobos oleh Belanda, tetapi pasukan TNI tidak bergerak mundur, melainkan membentuk kantong-kantong perlawanan. Ketika Belanda menyatakan batas daerah pendudukannya dan daerah Republik dengan garis demarkasi, pasukan TNI menduduki kantong-kantong perlawanan di daerah yang diakui Belanda sebagai daerah pendudukannya. 
Untuk menghadapi keadaan ini, Jendral Soedirman kemudian berusaha menyusun rencana baru. Bersama dengan para pemikir militer dalam Markas Besar TNI, seperti T.B. Simatupang dan A.H. Nasution, akhirnya menemukan strategi Wehrkreise—yang merupakan adaptasi dari sistem serupa yang diterapkan Jerman dalam Perang Dunia II. 
Wehrkreise memilik arti lingkungan pertahanan atau pertahanan daerah. Sistem ini dipakai untuk mempertahankan setiap wilayah kepulauan maupun provinsi, dan dipimpin oleh seorang komandan. Masing-masing komandan diberi kebebasan seluas-luasnya untuk menggelar dan mengembangkan perlawanan. Wilayah Wehrkreise adalah satu keresidenan, yang di dalamnya terhimpun kekuatan militer, politik, ekonomi, pendidikan, dan pemerintahan. Sistem Wehrkreise sama sekali meninggalkan sistem pertahanan linier. Sistem Wehrkreise ini kemudian disahkan penggunaannya dalam Surat Perintah Siasat No.1, yang ditandatangani oleh Panglima Besar Soedirman tanggal 12 juni 1948
Daerah Bantul yang termasuk dalam SWK 102, bermarkas di Pandak, terbagi dalam 5 kompi, yaitu :
1.    Kompi 1, dipimpin Kapten  Widodo berada di Krapyak dan Dongkelan
2.    Kompi 2, dipimpin Kapten Soedarmo, berada di Bakulan
3.    Kompi 3, dipimpin Kapten Ali Affandi berada di Kotagede
4.    Kompi 4, dipimpin Kapten Soemarno, berada di Bibis (semula di Tamanan dan semail)
5.    Kompi Senjata Bantuan, dipimpin Kapten Oesodo (baterai altileri)
Peranan saat SWK 102 saat pelaksanaan Serangan Umum 1 Maret 1949 sangat penting dan menentukan. SWK 102  di bawah pimpinan Mayor Sardjono bergerak  dari pangkalan ke arah utara bagian selatan, melalui terowongan saluran air memasuki komplek Kraton lewat Gading, Alun alun Selatan, SR Keputran, Pagelaran sampai Keben.  Dari tempat ini Komandan SWK 102 mengatur dan mengendalikan serangan yang dilakukan serentak tepat pukul 06.00 WIB bersamaan dengan bunyi sirine tanda jam malam berakhir.
Serangan Umum 1 maret 1949 berhasil gemilang. Akibat peristiwa tersebut Belanda melakukan serangan serangan balasan ke beberapa target dan sasaran termasuk di wilayah Kapanewon Bantul.  Titik-titik yang terjadi antara lain di Nyangkringan,  Niten Trirenggo, Tangsi Bantul, Pasar Bantul, Bantul krajan, Jebugan, Palbapang, Guyengan/Ngepreh, Kweden dan beberapa insiden pertempuran lainnya. Banyak sekali insiden yang menelan banyak korban di ke dua belah pihak. Mereka yang gugur sebagai pahlawan bangsa. Beberapa kejadian dapat terekam kembali dari wawancara kepada pelaku pertempuran. 
NYANGKRINGAN
Kontak senjata terjadi, pasukan SWK 102 menghadang patroli Belanda dan membuat kalang kabut, namun tanpa korban di kedua belah pihak.
NITEN TRIRENGGO
Masih serangkaian penghadangan gerilyawan di Melikan Lor dan Melikan Kidul. Berkali kali kontak senjata namun tidak sampai terjadi korban. DI Melikan Lor serdadu Belanda yang berjalan paling belakang di sergap diam-diam oleh gerilyawan, dibunuh dengan sangkur dan teman temannya yang di depan tidak ada yang tahu. 
Pagi harinya, iring-iringan patroli Belanda di dusun Niten (Timur Gereja Klodran) terkena ranjau gerilyawan. Sore harinya Belanda melakukan sweeping  di Niten dan beberapa laki-laki ditembak. Seorang Gerilyawan TUKIJO, penarik trckbom ditembak mati di dekat lubang persembunyiannya. 
TANGSI BANTUL
Tangsi (sekarang MAPOLRES) merupakan pos  pasukan Belanda yang berada di tengah kota Bantul. Gerilyawan berkali-kali memancing serangan mendadak, setelah berhasil membawa senjata  segera bersembunyi. Banyak senjata hasil rampasan dari tangsi dibawa keluar kota. Biasanya lewat bawah tebing sungai Winongo Kecil, hingga berhenti di persawahan (sekarang Lap Dwi windu).

BANTUL KRAJAN
Belanda memasang ranjau di jembatan kecil sebelah selatan masjid Jami’ (Jamasba). Seorang gerilyawan Borang namanya, penembak Brend gugur di tempat ini karena terkena pecahan ranjau.
JEBUGAN
Pengacauan gerilyawan terhadap pos Belanda di Jebugan, Komandan Kompi III Letnan Ali affandi luka terkena pecahan mortir pada serangan balasan dari pihak Belanda
PALBAPANG
Ketika sedang ronda kampung, beberapa pemuda dusun Palbapang di tangkap patroli Belanda, di sandera dan di tembak mati.
GUYENGAN
Dari Palbapang, patroli Belanda  menyerang sepasukan kecil TNI di Guyengan. Pasukan gerilya selamat. Namun 3 jenazah Belanda di tinggal di Guyengan. 
KWEDEN
Dalam rentetan peristiwa Palbapang dan Guyengan, konvoi Belanda di Kweden menembak mati 2 TNI yang melintas. Tidak ada perlawanan dari pasukan TNI karena 2 TNI tersebut berjalan sendirian sebagai penghubung.
KESAKSIAN ISBILAL MAKSUM, BA
Bapak Isbilal Maksum, BA adalah putera ke-7 Kyai Maksum, ulama terkenal dari Jejeran Wonokromo. Lahir di Bantul, tanggal 2 juni 1934, lulusan Sarjana Muda IAIN Jurusan Tarbiyah.Anggota Kompi III Batalyon I Brigade X, dengan Letnan Ali Afandi sebagai komandan kompi.
Suatu saat diperintah untuk menyelidiki Belanda di Palbapang. Dengan di bekali ketapel (plintheng) bersama seorang temannya bernama Parjito dari Sorogenen Timbulharjo. Berangkat dari  Gesikan, sampai di stasiun Kereta Api Palbapang di stop dan di suruh masuk ke desa sebelah utara stasiun oleh tentara Belanda.  Di tanya macam-macam, dan pertanyaan terakhir adalah “ kamu tidak tahu pasukan Indonesia?” Saya jawab singkat. Tidak! Saya hanya akan cari burung. “ Dimana anjing-anjing TNI itu?” tanyanya kemudian. “Tidak tahu Tuan. Saya hanya cari burung tidak cari anjing” jawab saya. “Huss Verdom, sech. Semua orang kalau ditanya tidak tahu”
 Belanda mengakiri tanya jawab dengan menampar muka saya.
ULAMA PEJUANG
Peran para ulama dalam masa perang Gerilya sangat Signifikan. Salah satunya adalah KH Mathori Al Huda. Beliau adalah Imam Besar Askar Perang Sabil (APS) Cabang Bantul dengan komandan APS , Sunardjo. Beberapa orang yang dipercaya duduk di pucuk piminan APS cabang Bantul selain KH. Mathori Al Huda dan Sunardjo, antara lain adalah Sastro Nardoyo, Pawironitro, Mahmud TL., Isman Zahrowi, R. Sukardi, dan M. Mujahid.
Mobilisasi kekuatan terhadap anggota APS itu semula bertempat di pondok pesantren, masjid-masjid dan siswa sekolahan yang dilakukan oleh para ulama setempat. Di kabupaten Bantul mobilisasi APS dilakukan di beberapa tempat, seperti di Langgar Al Huda milik KH. Mathori Al Huda, masjid Jami’ di kecamatan Bantul, masjid Badegan Bantul, Pesantren Krapyak Sewon, Pesantren Ngrukem dan Pesantren Gesikan Pandak.
APS cabang Bantul dipimpin oleh imam besar KH. Mathori AI Huda dengan komandan APS Sunardjo, yang didukung oleh beberapa tokoh ulama dan masyarakat. Para penggerak APS tersebut tergabung dalam satu kesatuan setingkat pleton, juga ada yang bertugas sebagai perantara dan mengkoordinasikan penyiapan dapur umum. Mereka saling mengisi peluang untuk turut berpatisipasi dalam perjuangan.
Sunardjo selaku komandan APS batalyon di Kabupaten Bantul membawahi 9 kecamatan (dahulu kapanewonan), yaitu Bantul, Pajangan, Sedayu, Srandakan, Sanden, Bambanglipuro, Pandak, dan Pundong.
Untuk mengkoordinasikan kegiatan APS komandan batalyon yang membentuk dan mengangkat komandan pleton di setiap kecamatan. Di antara komandan pleton yang diserahi kepercayaan mengurusi APS itu adalah: Warso Warsito di kecamatan Bantul, Damanhuri di kecamatan Pajangan, Suratbiyanto di kecamatan Pandak, Sugito di kecamatan Srandakan, Zaini di kecamatan Sanden, Idris di kecamatan Pundong, Gino di kecamatan Bambanglipuro, dan Khamin di kecamatan Kretek.

Demikian sekilas gambaran nyata perjuangan pada waktu itu di wilayah Kapanewon Bantul yang belum semuanya bisa terungkap.
Penulis : Fauzan Muarifin (Panewu Bantul)
Sumber :
1. Buku Ketika Rakyat  Bantul Membela Republik, oleh Yayasan Projotamansari.
2. Suaramuhammadiyah.id


Puskesmas
di Kapanewon Bantul

Puskesmas Bantul I

Puskesmas Bantul I

Jalan KH. Wakhid hasyim No 208 Palbapang Bantul
(0274) 7104470

Puskesmas Bantul II

Puskesmas Bantul II

Geblag, Bantul, Bantul
(0274) 6994490

Komando Rayon Militer Bantul

Koramil / Komando Rayon Militer Bantul

Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo

Kepolisian Sektor Bantul

Polsek / Kepolisian Sektor Bantul

Jl. Marsda Adisucipto No.102 Bantul
(0274) 367403

Kantor Urusan Agama Bantul

KUA / Kantor Urusan Agama Bantul

Jl. Marsda Adisucipto No.10 Bantul
(0274) 646102